AnMe, another part of me...
Mungkin sebuah sisi yang berbeda secara agak ekstrim dari biasanya. Tentang lompatan-lompatan pemikiran, kelakuan-kelakuan terpendam, rahasia-rahasia yang tidak terkatakan, atau semacamnya. Sesuatu yang disadari ada tapi lebih sering ditiadakan secara kasat mata namun tetap eksis di belakang sini.
Sisi lain dari diri, sisi yang dibagi dengan tidak merata pada beberapa orang yang tersangkut secara sengaja dan tidak sengaja. Sisi yang dibenci dan demi stabilitas lebih baik tidak diungkap. Sisi yang kadang menguat dengan sendirinya dalam kesendirian yang menyenangkan.
Ini blog kedua. Yang pertama ada di depan sana, bercerita tentang saya yang biasa, tentang yang terlihat dan yang dibagi pada semuanya. Yang bicara kekelaman sebatas itu, dan mengubah kata jadi kiasan makna yang berputar-putar tidak karuan.
Lama-lama saya tertekan karena bahkan dalam tulisan pun saya harus berbatas dengan ketakutan akan ketidakamanan. Lama-lama saya lelah, lalu lari dan lari tanpa akhir. Dan setelah sekian lama saya pikir saya harus menulis seperti apa yang saya pikir, dengan bahasa saya dan menghentikan perputaran tidak karuan itu.
Saya terobsesi dengan ketidakjelasan hidup. Merasa senang berbincang tentang hidup yang abstrak, tentang sesuatu yang tidak punya sekat jelas, tentang sesuatu yang belum pasti atau mungkin tidak pernah pasti, tentang utopia, tentang celah pemberontakan dalam keteraturan, atau tentang sesuatu yang seperti itu.
Di satu sisi saya ingin jadi orang biasa yang sama seperti orang-orang biasa lainnya. Di sisi lain saya jenuh dengan stabilitas yang ada. Trouble addict, kata seorang kawan. Saya mungkin nggak akan bisa hidup tanpa masalah yang mengacaukan, begitu katanya.
Benar atau tidak saya nggak ambil pusing.
Inkonsisten. Mungkin saya seperti itu. Meledak-ledak, kemudian tenang. Mengharapkan ketenangan, kemudian bosan dan membuat keributan. Berhati-hati agar tak bermasalah dengan orang lain, kemudian gusar dan kembali bermain api. Stabil dan tidak stabil sekaligus. Ingin jadi orang baik dan dengan cepat menjadi tidak peduli pada aturan untuk jadi orang baik dalam sekali jalan.
Tidak tahu mau apa. Mungkin masih tersesat dalam ketidakdewasaan. Kadang saya berpikir seperti itu. Kadang juga lupa berpikir.
Tapi kehidupan sosial tidak menerima kondisi seperti ini. Status sebagai makhluk sosial mengharuskan saya memilih satu diantara dua yang bertentangan. Dan saya memilih karena saya tahu saya nggak bisa hidup sendirian. Saya memilih. Walau kadang akhirnya saya sering terpeleset jalan. Paling tidak saya mencoba menstabilkan diri dengan yang namanya adaptasi. Menyingkirkan ketidaknyamanan yang timbul dan menerimanya sebagai bagian dari hidup yang “memang seperti ini”.
Kehidupan sosial untuk saya adalah kehidupan yang melelahkan. Harus begini dan begitu sesuai aturan. Ketersimpangan dari kondisi yang “biasanya” atau perbedaan diri dengan teori yang ada akan melekatkan cap gila. Itu yang saya terima dari lingkungan sosial. Menjadi berbeda adalah biasa, tapi menjadi selalu berbeda adalah gila.
Sepertinya saya orang yang punya kebutuhan tinggi untuk diterima, sekaligus punya ketakutan tinggi tentang kondisi ditinggalkan. Menjadi ekstrim berarti menarik diri dari kemungkinan penerimaan orang lain. Memilih keekstriman berarti mengiyakan ketidakseimbangan, dan itu tidak boleh dipertahankan jika ingin diterima. Entah dari mana saya belajar seperti ini. Atau lebih tepat, merasa bahwa kenyataan memang seperti ini.
Saya belajar bahwa untuk bisa diterima, saya tidak boleh meneriakkan semua yang ada dalam kepala saya begitu saja. Saya harus memilih dan memilah mengeluarkan apa untuk siapa dalam kondisi bagaimana dengan cara apa. Kadang-kadang, ini membuat saya menjadi manusia yang sukanya cari aman. Tidak mau ribut, dan lebih suka mengikuti maunya orang lain. Dan setelah sekian lama, kondisi ini membuat saya jadi manusia yang muak pada dirinya sendiri yang seperti ini. Menjadi manusia menyedihkan yang sempat rela kehilangan eksistensinya dalam diri sendiri demi membuat orang lain senang dan menerima keberadaan diri. Benar-benar kasihan.
Another me? Itu cuma candaan, sebutan saya untuk sisi lain dari diri ini yang tidak banyak diketahui orang. Tidak keluarga, tidak teman-teman dekat saya, tidak juga orang terdekat saya. Kadang orang lain yang tahu. Orang lain yang benar-benar orang lain. Orang lain yang asing, yang baru saya temui atau bahkan tidak saya kenal. Orang lain yang tidak terkait secara langsung akan kebutuhan saya tentang penerimaan.
Saya masih seperti ini.
Berpikir dengan melompat-lompat tanpa arahan jalur. Bertindak dengan frekuensi lupa yang keluar batas toleransi. Bersikap semaunya. Memberontak pada cap orang lain tentang diri yang kelihatan. Membantah tapi tidak mengeluarkan bantahan. Bersembunyi di balik kesalahpahaman yang disyukuri. Merasa bersalah karena menipu dengan sengaja dan tertawa dalam tangis kemudian menangis dalam tawa.
Yang itu saya. Yang ini juga saya. Yang mana juga saya.
Tidak stabil. Tidak suka diprediksi.
Suka cari perhatian dengan cara kelewatan. Suka sok tahu tentang diri sendiri. Suka sok tahu juga tentang orang lain.
Menyebalkan. Senang menjadi menyebalkan. Mudah bosan. Mudah beralih dari kebosanan.
Begitulah.
Ini saya. Paling tidak saya tahu ini memang saya.
Manusia tak hanya punya satu sisi. Manusia punya sisi yang tak tampak oleh orang lain. Saya manusia. Jadi saya punya sisi itu. Dan inilah potongan-potongan cerita dari sisi yang itu, yang berteriak ingin keluar sebagai saya. Keluar di sini. Lewat kata-kata.
selamat datang,
saya di sini.