Senin, 25 Agustus 2008

Tentang ketertarikan saya, pada kamu

saya bukan mencintai kamu. saya tertarik.


cinta nggak segampang itu datang. cinta butuh proses.

tapi ketertarikan? dia datang sejak pertama.


nggak ada yang tahu ketertarikan ini akan berkembang menjadi apa.

nggak kamu, nggak juga saya.

dia terlalu fleksibel sebagai sebuah status perasaan.


dan saya nggak mau maksa.

saya biarkan ketertarikan itu di sini. mungkin sekarang dia mulai berubah menjadi suka.


sudahlah. saya capek mikir.

semakin saya menduga, semakin saya bingung.


begini saja,

saya suka kamu, itu fakta. dan itu urusan saya.

apakah kamu suka saya atau tidak, itu urusan kamu.


dan lagi-lagi saya nggak mau maksa.

Sabtu, 02 Agustus 2008

rasa apa ini?

Kepala saya sakit.
Mau pecah.
Mau saya pecahkan saja sendiri.
Biar cepat.
Tapi tidak jadi.
Katanya nanti bisa mati.
Saya masih banyak dosa.
Belum tobat.
Belum boleh mati.
Katanya nanti bisa masuk neraka.
Katanya lagi neraka itu panas.
Saya nggak suka panas.
Jadi saya nggak mau masuk sana.

Saya mual.
Mungkin karena muak yang terlalu.
Terlalu banyak.
Atau terlalu penuh.
Muak pada diri.
Diri sendiri dan orang lain.
Atau karena kebanyakan asupan.
Yang perlu.
Lebih banyak lagi yang tidak perlu.
Nyaris muntah.
Tapi katanya muntah depan orang tidak sopan.
Jadi saya pergi cari kamar mandi.
Buat muntah.
Ya, cuma buat muntah.
Tidak ada tendensi lainnya.
Cuma buat muntah yang gara-gara mual tadi.
Saya jadi cari kamar mandi.

Sudah ah.
Sudah selesai.
Kepala saya sakit.
Perut saya mual.
Saya mau tidur.
Mungkin masuk angin.

Jumat, 01 Agustus 2008

Kenapa kamu mau jadi teman saya?


Saya tidak memberikan keuntungan pada kamu dengan menjadikan kamu teman saya. Saya bukan orang yang bisa kamu banggakan sebagai teman.

Kamu tahu saya egois setengah mati. Suka mikir aneh-aneh. Sering bertindak tanpa pikir panjang. Senang bikin repot orang. Selalu cari masalah. Punya kecenderungan untuk menjadi sangat destruktif saat emosi.

Bicara saya kasar. Memaki sudah jadi bagian dari tata bahasa hari-hari saya. Saya nggak bisa menghibur kamu waktu kamu sedih. Saya nggak bisa membujuk kamu. Saya bisanya maksa. Saya bahkan suka nggak ada buat kamu saat kamu butuh teman.

Saya bukan orang baik.

Saya juga bukan orang baik-baik. Meskipun saya dan kamu sama-sama berusaha untuk nggak jadi bajingan seperti mereka yang ada di sana itu.

Saya jadi ingin tanya, kenapa kamu masih mau jadi teman saya?

Saya suka bikin kamu kesal. Marah. Muak. Atau bahkan antipati.

Kamu tahu saya kadang menghilang seenak saya dan kembali tiba-tiba minta tolong ini itu. Nyusahin kamu terus-terusan. Nggak henti bikin kamu naik darah dan jadi cepat tua karena harus terus mengomeli saya.

Kamu yang bilang kalau saya trouble addict. Nggak bisa hidup tanpa kekacauan. Dengan begitu paling sedikit kamu kecipratan susahnya. Ikut menghirup aroma kekacauan yang ada pada saya. Intinya, jadi tambah susah gara-gara saya bikin ulah.

Lalu kenapa kamu masih mau jadi teman saya?




Jumat, 27 Juni 2008

Cerita saya tentang si rokok

Kamu merokok? Begitu yang kawan saya tanyakan.

Ya, saya merokok.

Bukan perokok, tapi sekali-sekali merokok.

Saat butuh. Saat ingin. Saat punya rokok. Saat ada kesempatan buat merokok.


Untuk apa? Itu pertanyaan kedua yang disodorkan pada saya.

Untuk melepas sedikit ketegangan yang mengikat kepala ini. Menyisihkan sedikit resah yang menghantui terus menerus. Melampiaskan pemberontakan kecil terhadap diri yang biasa. Mereduksi stres yang suka tiba-tiba datang tanpa undangan.


Entah kenapa sejak pertama, saya merasa aktivitas menghembuskan asapnya ke udara itu membantu saya menenangkan diri.

Mungkin pelarian sementara. Mungkin bentuk pelepasan agresi yang tak keluar. Mungkin cuma sugesti.

Faktanya, saya merokok.

Kamu merokok untuk pergaulan? Selidiknya lagi.

Tidak. Saya tidak butuh rokok untuk pergaulan.

Saya merokok sendirian, di tempat yang tidak ada orang. Saya tidak suka merokok di depan orang-orang. Saya tidak berminat memberitahu mereka kalau saya merokok.

Saya juga tidak tertarik untuk menjadikan diri saya alternatif orang yang bisa mereka tanya punya rokok atau tidak.

Saya merokok untuk diri saya sendiri.

Untuk memuaskan sesuatu di dalam sini.

Sesuatu yang saya nggak tahu itu apa.


Kemudian kawan saya terdiam.

Saya membisu.

Kami sama-sama sadar bahwa hidup berubah ke arah yang tidak diduga.

Kemudian kami memecah hening dengan hela nafas.


Mau rokok?” tawarnya.

Saya ambil satu.

Lalu kami sibuk dengan asap itu. Sibuk dengan pikiran kami. Mungkin tentang rokok. Mungkin tentang salah satu dari kami yang berubah. Mungkin tidak keduanya.

Minggu, 22 Juni 2008

AnMe, another part of me...

AnMe, another part of me...


Mungkin sebuah sisi yang berbeda secara agak ekstrim dari biasanya. Tentang lompatan-lompatan pemikiran, kelakuan-kelakuan terpendam, rahasia-rahasia yang tidak terkatakan, atau semacamnya. Sesuatu yang disadari ada tapi lebih sering ditiadakan secara kasat mata namun tetap eksis di belakang sini.

Sisi lain dari diri, sisi yang dibagi dengan tidak merata pada beberapa orang yang tersangkut secara sengaja dan tidak sengaja. Sisi yang dibenci dan demi stabilitas lebih baik tidak diungkap. Sisi yang kadang menguat dengan sendirinya dalam kesendirian yang menyenangkan.

Ini blog kedua. Yang pertama ada di depan sana, bercerita tentang saya yang biasa, tentang yang terlihat dan yang dibagi pada semuanya. Yang bicara kekelaman sebatas itu, dan mengubah kata jadi kiasan makna yang berputar-putar tidak karuan.

Lama-lama saya tertekan karena bahkan dalam tulisan pun saya harus berbatas dengan ketakutan akan ketidakamanan. Lama-lama saya lelah, lalu lari dan lari tanpa akhir. Dan setelah sekian lama saya pikir saya harus menulis seperti apa yang saya pikir, dengan bahasa saya dan menghentikan perputaran tidak karuan itu.

Saya terobsesi dengan ketidakjelasan hidup. Merasa senang berbincang tentang hidup yang abstrak, tentang sesuatu yang tidak punya sekat jelas, tentang sesuatu yang belum pasti atau mungkin tidak pernah pasti, tentang utopia, tentang celah pemberontakan dalam keteraturan, atau tentang sesuatu yang seperti itu.

Di satu sisi saya ingin jadi orang biasa yang sama seperti orang-orang biasa lainnya. Di sisi lain saya jenuh dengan stabilitas yang ada. Trouble addict, kata seorang kawan. Saya mungkin nggak akan bisa hidup tanpa masalah yang mengacaukan, begitu katanya.

Benar atau tidak saya nggak ambil pusing.

Inkonsisten. Mungkin saya seperti itu. Meledak-ledak, kemudian tenang. Mengharapkan ketenangan, kemudian bosan dan membuat keributan. Berhati-hati agar tak bermasalah dengan orang lain, kemudian gusar dan kembali bermain api. Stabil dan tidak stabil sekaligus. Ingin jadi orang baik dan dengan cepat menjadi tidak peduli pada aturan untuk jadi orang baik dalam sekali jalan.

Tidak tahu mau apa. Mungkin masih tersesat dalam ketidakdewasaan. Kadang saya berpikir seperti itu. Kadang juga lupa berpikir.

Tapi kehidupan sosial tidak menerima kondisi seperti ini. Status sebagai makhluk sosial mengharuskan saya memilih satu diantara dua yang bertentangan. Dan saya memilih karena saya tahu saya nggak bisa hidup sendirian. Saya memilih. Walau kadang akhirnya saya sering terpeleset jalan. Paling tidak saya mencoba menstabilkan diri dengan yang namanya adaptasi. Menyingkirkan ketidaknyamanan yang timbul dan menerimanya sebagai bagian dari hidup yang “memang seperti ini”.

Kehidupan sosial untuk saya adalah kehidupan yang melelahkan. Harus begini dan begitu sesuai aturan. Ketersimpangan dari kondisi yang “biasanya” atau perbedaan diri dengan teori yang ada akan melekatkan cap gila. Itu yang saya terima dari lingkungan sosial. Menjadi berbeda adalah biasa, tapi menjadi selalu berbeda adalah gila.

Sepertinya saya orang yang punya kebutuhan tinggi untuk diterima, sekaligus punya ketakutan tinggi tentang kondisi ditinggalkan. Menjadi ekstrim berarti menarik diri dari kemungkinan penerimaan orang lain. Memilih keekstriman berarti mengiyakan ketidakseimbangan, dan itu tidak boleh dipertahankan jika ingin diterima. Entah dari mana saya belajar seperti ini. Atau lebih tepat, merasa bahwa kenyataan memang seperti ini.

Saya belajar bahwa untuk bisa diterima, saya tidak boleh meneriakkan semua yang ada dalam kepala saya begitu saja. Saya harus memilih dan memilah mengeluarkan apa untuk siapa dalam kondisi bagaimana dengan cara apa. Kadang-kadang, ini membuat saya menjadi manusia yang sukanya cari aman. Tidak mau ribut, dan lebih suka mengikuti maunya orang lain. Dan setelah sekian lama, kondisi ini membuat saya jadi manusia yang muak pada dirinya sendiri yang seperti ini. Menjadi manusia menyedihkan yang sempat rela kehilangan eksistensinya dalam diri sendiri demi membuat orang lain senang dan menerima keberadaan diri. Benar-benar kasihan.

Another me? Itu cuma candaan, sebutan saya untuk sisi lain dari diri ini yang tidak banyak diketahui orang. Tidak keluarga, tidak teman-teman dekat saya, tidak juga orang terdekat saya. Kadang orang lain yang tahu. Orang lain yang benar-benar orang lain. Orang lain yang asing, yang baru saya temui atau bahkan tidak saya kenal. Orang lain yang tidak terkait secara langsung akan kebutuhan saya tentang penerimaan.

Saya masih seperti ini.

Berpikir dengan melompat-lompat tanpa arahan jalur. Bertindak dengan frekuensi lupa yang keluar batas toleransi. Bersikap semaunya. Memberontak pada cap orang lain tentang diri yang kelihatan. Membantah tapi tidak mengeluarkan bantahan. Bersembunyi di balik kesalahpahaman yang disyukuri. Merasa bersalah karena menipu dengan sengaja dan tertawa dalam tangis kemudian menangis dalam tawa.

Yang itu saya. Yang ini juga saya. Yang mana juga saya.

Tidak stabil. Tidak suka diprediksi.

Suka cari perhatian dengan cara kelewatan. Suka sok tahu tentang diri sendiri. Suka sok tahu juga tentang orang lain.

Menyebalkan. Senang menjadi menyebalkan. Mudah bosan. Mudah beralih dari kebosanan.

Begitulah.

Ini saya. Paling tidak saya tahu ini memang saya.

Manusia tak hanya punya satu sisi. Manusia punya sisi yang tak tampak oleh orang lain. Saya manusia. Jadi saya punya sisi itu. Dan inilah potongan-potongan cerita dari sisi yang itu, yang berteriak ingin keluar sebagai saya. Keluar di sini. Lewat kata-kata.

selamat datang,

saya di sini.