Jumat, 20 November 2009
sedang ingin bunuh diri
rasanya seperti tidak dalam kondisi ada.
carut marut.
memasukkan banyak-banyak racun ke dalam tubuh.
sekedar menetralisir racun bawaan.
seperti diacak-acak. dihancurkan dengan cepat dan tidak begitu peduli pada rasanya.
ingin muntah tapi tidak ada yang dimuntahkan.
depresi?
tidak tahu.
selalu salah dan selalu tidak tahu diri.
tidak pernah tahu mau apa.
tidak ada gunanya menjadi ada.
begitu.
memang sedang ingin bunuh diri.
tapi tidak tega pada yang ditinggalkan.
ditinggal mati bunuh diri bukan sesuatu yang keren sama sekali.
tentang tuhan?
tuhan sepertinya tinggal masalah kepentingan.
dosa?
dan dosa adalah konstruksi sosial.
Senin, 25 Agustus 2008
Tentang ketertarikan saya, pada kamu
saya bukan mencintai kamu. saya tertarik.
cinta nggak segampang itu datang. cinta butuh proses.
tapi ketertarikan? dia datang sejak pertama.
nggak ada yang tahu ketertarikan ini akan berkembang menjadi apa.
nggak kamu, nggak juga saya.
dia terlalu fleksibel sebagai sebuah status perasaan.
dan saya nggak mau maksa.
saya biarkan ketertarikan itu di sini. mungkin sekarang dia mulai berubah menjadi suka.
sudahlah. saya capek mikir.
semakin saya menduga, semakin saya bingung.
begini saja,
saya suka kamu, itu fakta. dan itu urusan saya.
apakah kamu suka saya atau tidak, itu urusan kamu.
dan lagi-lagi saya nggak mau maksa.
Sabtu, 02 Agustus 2008
rasa apa ini?
Mau pecah.
Mau saya pecahkan saja sendiri.
Biar cepat.
Tapi tidak jadi.
Katanya nanti bisa mati.
Saya masih banyak dosa.
Belum tobat.
Belum boleh mati.
Katanya nanti bisa masuk neraka.
Katanya lagi neraka itu panas.
Saya nggak suka panas.
Jadi saya nggak mau masuk sana.
Saya mual.
Mungkin karena muak yang terlalu.
Terlalu banyak.
Atau terlalu penuh.
Muak pada diri.
Diri sendiri dan orang lain.
Atau karena kebanyakan asupan.
Yang perlu.
Lebih banyak lagi yang tidak perlu.
Nyaris muntah.
Tapi katanya muntah depan orang tidak sopan.
Jadi saya pergi cari kamar mandi.
Buat muntah.
Ya, cuma buat muntah.
Tidak ada tendensi lainnya.
Cuma buat muntah yang gara-gara mual tadi.
Saya jadi cari kamar mandi.
Sudah ah.
Sudah selesai.
Kepala saya sakit.
Perut saya mual.
Saya mau tidur.
Mungkin masuk angin.
Jumat, 01 Agustus 2008
Kenapa kamu mau jadi teman saya?
Saya tidak memberikan keuntungan pada kamu dengan menjadikan kamu teman saya. Saya bukan orang yang bisa kamu banggakan sebagai teman.
Kamu tahu saya egois setengah mati. Suka mikir aneh-aneh. Sering bertindak tanpa pikir panjang. Senang bikin repot orang. Selalu cari masalah. Punya kecenderungan untuk menjadi sangat destruktif saat emosi.
Bicara saya kasar. Memaki sudah jadi bagian dari tata bahasa hari-hari saya. Saya nggak bisa menghibur kamu waktu kamu sedih. Saya nggak bisa membujuk kamu. Saya bisanya maksa. Saya bahkan suka nggak ada buat kamu saat kamu butuh teman.
Saya bukan orang baik.
Saya juga bukan orang baik-baik. Meskipun saya dan kamu sama-sama berusaha untuk nggak jadi bajingan seperti mereka yang ada di sana itu.
Saya jadi ingin tanya, kenapa kamu masih mau jadi teman saya?
Saya suka bikin kamu kesal. Marah. Muak. Atau bahkan antipati.
Kamu tahu saya kadang menghilang seenak saya dan kembali tiba-tiba minta tolong ini itu. Nyusahin kamu terus-terusan. Nggak henti bikin kamu naik darah dan jadi cepat tua karena harus terus mengomeli saya.
Kamu yang bilang kalau saya trouble addict. Nggak bisa hidup tanpa kekacauan. Dengan begitu paling sedikit kamu kecipratan susahnya. Ikut menghirup aroma kekacauan yang ada pada saya. Intinya, jadi tambah susah gara-gara saya bikin ulah.
Lalu kenapa kamu masih mau jadi teman saya?
Jumat, 27 Juni 2008
Cerita saya tentang si rokok
Kamu merokok? Begitu yang kawan saya tanyakan.
Ya, saya merokok.
Bukan perokok, tapi sekali-sekali merokok.
Saat butuh. Saat ingin. Saat punya rokok. Saat ada kesempatan buat merokok.
Untuk apa? Itu pertanyaan kedua yang disodorkan pada saya.
Untuk melepas sedikit ketegangan yang mengikat kepala ini. Menyisihkan sedikit resah yang menghantui terus menerus. Melampiaskan pemberontakan kecil terhadap diri yang biasa. Mereduksi stres yang suka tiba-tiba datang tanpa undangan.
Entah kenapa sejak pertama, saya merasa aktivitas menghembuskan asapnya ke udara itu membantu saya menenangkan diri.
Mungkin pelarian sementara. Mungkin bentuk pelepasan agresi yang tak keluar. Mungkin cuma sugesti.
Faktanya, saya merokok.
Kamu merokok untuk pergaulan? Selidiknya lagi.
Tidak. Saya tidak butuh rokok untuk pergaulan.
Saya merokok sendirian, di tempat yang tidak ada orang. Saya tidak suka merokok di depan orang-orang. Saya tidak berminat memberitahu mereka kalau saya merokok.
Saya juga tidak tertarik untuk menjadikan diri saya alternatif orang yang bisa mereka tanya punya rokok atau tidak.
Saya merokok untuk diri saya sendiri.
Untuk memuaskan sesuatu di dalam sini.
Sesuatu yang saya nggak tahu itu apa.
Kemudian kawan saya terdiam.
Saya membisu.
Kami sama-sama sadar bahwa hidup berubah ke arah yang tidak diduga.
Kemudian kami memecah hening dengan hela nafas.
“Mau rokok?” tawarnya.
Saya ambil satu.
Lalu kami sibuk dengan asap itu. Sibuk dengan pikiran kami. Mungkin tentang rokok. Mungkin tentang salah satu dari kami yang berubah. Mungkin tidak keduanya.
