Jumat, 27 Juni 2008

Cerita saya tentang si rokok

Kamu merokok? Begitu yang kawan saya tanyakan.

Ya, saya merokok.

Bukan perokok, tapi sekali-sekali merokok.

Saat butuh. Saat ingin. Saat punya rokok. Saat ada kesempatan buat merokok.


Untuk apa? Itu pertanyaan kedua yang disodorkan pada saya.

Untuk melepas sedikit ketegangan yang mengikat kepala ini. Menyisihkan sedikit resah yang menghantui terus menerus. Melampiaskan pemberontakan kecil terhadap diri yang biasa. Mereduksi stres yang suka tiba-tiba datang tanpa undangan.


Entah kenapa sejak pertama, saya merasa aktivitas menghembuskan asapnya ke udara itu membantu saya menenangkan diri.

Mungkin pelarian sementara. Mungkin bentuk pelepasan agresi yang tak keluar. Mungkin cuma sugesti.

Faktanya, saya merokok.

Kamu merokok untuk pergaulan? Selidiknya lagi.

Tidak. Saya tidak butuh rokok untuk pergaulan.

Saya merokok sendirian, di tempat yang tidak ada orang. Saya tidak suka merokok di depan orang-orang. Saya tidak berminat memberitahu mereka kalau saya merokok.

Saya juga tidak tertarik untuk menjadikan diri saya alternatif orang yang bisa mereka tanya punya rokok atau tidak.

Saya merokok untuk diri saya sendiri.

Untuk memuaskan sesuatu di dalam sini.

Sesuatu yang saya nggak tahu itu apa.


Kemudian kawan saya terdiam.

Saya membisu.

Kami sama-sama sadar bahwa hidup berubah ke arah yang tidak diduga.

Kemudian kami memecah hening dengan hela nafas.


Mau rokok?” tawarnya.

Saya ambil satu.

Lalu kami sibuk dengan asap itu. Sibuk dengan pikiran kami. Mungkin tentang rokok. Mungkin tentang salah satu dari kami yang berubah. Mungkin tidak keduanya.

Tidak ada komentar: